“ADIKSI”
Ketika
saya memutuskan untuk meninggalkan alat-alat komunikasi modern dan media sosial
saya seperti facebook, instagram, Line, Whatsapp, BBM dan lain-lain, lalu
beralih menggunakan metode komunikasi old
school yaitu SMS, banyak
teman-teman serta kerabat saya bertanya..
“Bang,
kenapa gak pake bbm lagi ? kenapa gak update status di FB atau upload foto di
Instagram lagi ? kamu galau yak bang ?... diputusin ya sama si A atau si B”
banyak mereka beranggapan demikian, menghubungkan drama percintaan dengan hilangnya
saya dari dunia ‘imajinasi’ yang sebenarnya tidak benar dan irelevan.
Saya hanya terkekeh kecil saat mereka
menduga-duga seperti itu. Di era informasi saat ini, media sosial memang berperan
penting bagi kehidupan kita, namun, tak pelak juga, kadang media sosial membuat
kita mengalami suatu Adiksi yang berlebihan. Tengoklah sekelilingmu
sekali-kali, tinggalkan dunia imajinasimu untuk sesaat saja, maka engkau akan
tahu mengapa saya walk out dari dunia
mimpi yang penuh kepalsuan tersebut. Pembodohan, narsisme, pelacuran,
pembohongan publik, semua terjadi karena adiksi
seseorang pada media sosial, contoh… banyak orang yang memalsukan dirinya
di media sosial seperti facebook, menulis sebuah khayalan yang tidak ada
artinya, di twitter, berseliweran kicauan pembohongan, di instagram, narsisme
berlebihan yang dituangkan dalam foto selfie,
perselingkuhan yang semakin mudah dengan hadirnya BBM, LINE, Whatsapp dan
lain-lain, dari semua adiksi tersebut, tak jarang manusia menjadi makhluk yang
penuh kepalsuan, menipu dirinya sendiri dengan menggambarkan bahwa ‘AKU
BAIK-BAIK SAJA’ …. Oh Tuhan, semua tidak baik-baik saja kawan !!!!
Media sosial, sebenarnya menjadi
pelepasan atau pelarian seseorang dari dunia nyata yang menjengkelkan namun,
terlepas dari itu semua, media sosial kadang bisa membuat kita jadi setres ,
apalagi jika kita melihat seorang teman, mengupload tentang hidupnya yang kini
jadi lebih baik dari kita, dia memposting foto-foto di media sosialnya, memberitahukan
kalau saat ini dia sedang liburan, atau punya mobil baru, bahkan pacar yang
cantik, bak Bunga Citra Lestari… tanpa disadari otak kita memprogram bahwa
‘kita mesti lebih dari dia’ dan apabila kita gagal mencapainya, kita akan
mengalami setres. Padahal, pada
kenyataannya, tidaklah demikian, mungkin saja hidupnya lebih buruk dari kita,
atau dia juga mengalami setres dan ingin hidup seperti kita, tidak ada yang
tahu, inilah penyebab kadang seseorang yang memiliki adiksi pada media sosial menjadi orang yang gampang marah, jahat
mulut, pembual dan penuh fitnah.
Saya pribadi, memilih meninggalkan
alat-alat komunikasi serta media sosial tersebut bukan karena ingin menutup
diri atau mencibirkan bibir terhadap dunia tapi, pernahkah kamu merasakan,
dimanapun kamu berada, kamu selalu sibuk mengabarkan pada dunia lewat alat
canggihmu agar mereka tahu kamu sedang apa dan berada dimana. Saya lelah dengan
kepalsuan alat komunikasi antar pribadi yang isinya hanya orang-orang berkeluh
kesah pada hidupnya bagai esok akan kiamat, tak ada harapan untuk hari ini dan
sebagainya. Saat kita sedang bersama teman-teman atau keluarga, semuanya sibuk
duduk dan bertunduk kepala menyaksikan reaksi-reaksi palsu dari rekan-rekan dunia
imajinasi kita terhadap postingan foto-foto yang baru saja kita unggah ke dunia
maya, menyedihkan !!! sediakanlah waktu untuk dunia nyata kawan, biarlah orang
melihat dirimu yang sesungguhnya, bukan dirimu yang sibuk pada dunia tidak
berbentuk itu.
Akan tetapi, menurut sudut pandang
saya sebagai penulis, adapula kebaikan dari sosial media yang tidak bisa kita
abaikan begitu saja yaitu sebagai ‘sumber informasi terbesar’ atau hugest information
sources. Tanpa sosial media , kita juga tidak akan tahu bahwa di ujung
dunia sana ada orang yang mati karena kelaparan, atau bahkan di sekitar kita
ada orang yang perlu bantuan. Tanpa adanya sosial media, kita pula akan
mengalami ketimpangan pada segi pengetahuan umum, kita menjadi orang yang ego
sentries, anti-sosial, dan sociopath. Maka bijaklah dalam menggunakan media
sosial serta alat-alat komunikasi modern kamu, jangan sampai media sosial atau
alat-alat komunikasi modern yang menggunakan kamu.
Hormat Penulis : Xaverius Yan’s
Chevalera