Sabtu, 11 Februari 2017

Kagumku padamu bulan



“KAGUMKU PADAMU BULAN”
Kemarin malam, saya duduk di teras belakang rumah sambil menenteng secangkir kopi lalu sesekali menyeruputnya… kebetulan malam itu bulan purnama terbit. Saat saya melihat ke angkasa, saya tertegun menyaksikan keindahan sinarnya. Seakan melekat mata ini, tenang pula rasa hati… lama saya lihat, makin lekat rasa pandang, saya mulai menyadari sesuatu… saya merenung, lalu mulai merasa kagum dengan ciptaan Tuhan yang satu ini… betapa tidak, indah dan sempurna. Itulah gambaran pertama yang keluar dari benak.
          Bulan sungguh luar biasa, dia adalah pahlawan bagi kita , mengapa demikian ?  di saat kita berjalan dalam gelapnya malam , bulan membela kita, dia menerangi kita dengan cahayanya, menemani kita sampai kepada tujuan.. dia sosok pemberani, dia terbit sendirian di angkasa , tidak malu dan tidak ragu, bersinar cerah menyingkap gelap, meski di gerogoti bintang-bintang yang ada di sekitarnya, dia tidak gentar… dia bercahaya lebih terang dari mereka.
          Akan tetapi, bulan juga kadang menghilang… saya sadar, dia juga perlu istirahat sebab dia pasti merasa kelelahan setelah bertarung melawan kegelapan demi kita, tapi jika dia sudah pulih , maka dia akan kembali menguasai langit malam. Oh bulan, saya kagum padamu.. sifatmu yang tidak malu meski terbit sendirian di langit, sifatmu yang pemberani, membela kami dari gelapnya malam, walau kau di gerogoti bintang-bintang… saya ingin sepertimu bulan… bercahaya di tengah gelap dan berani menantang dunia, walaupun sendirian.
          Tak terasa, kopi yang saya tenteng ternyata sisa ampas saja, sembari tersenyum , sayapun berlalu, kembali masuk ke dalam rumah. Terima kasih untuk cahayamu BULAN…


Hormat Penulis : Xaverius Yan’s Chevalera.

Kami paling benar !



KAMI PALING BENAR !
Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini, segala macam mereka perbuat untuk mencapai suatu tujuan pribadi , menghalalkan berbagai cara demi memenangkan seseorang atau sesuatu, melancarkan isu-isu tertentu demi menjadi yang paling benar. Mengaku sebagai kelompok pembela agama, tapi entah agama mana yang di bela, katanya sih.. agama yang itu, tapi dari kaumnya sendiri mereka malah tak di akui… ahhh… mereka hanya cari sensasi, mumpung di bayar, ya koar-koar…
Karena merasa hebat, besar dan benar, kemudian turun ke jalan meminta keadilan, meyidangkan siapa saja yang tak dikehendaki memimpin, membuat alternatif separatis dengan menciptakan pemimpin bandingan.. naik ke mimbar bicara tentang kenegaraan, senggol sana, senggol sini, kalau salah malah minta mediasi, kalau yang lain salah, langsung sikat habis…
Ahhh sungguh hebat kelompok ini, saya jadi kagum, katanya berilmu dan punya toleransi tinggi, tapi menganggap yang bukan pribumi ‘kafir’ckckck… ternyata gampang kalau jadi mereka, selalu benar dan tidak pernah salah. Katanya mereka selalu di dzalimi, di fitnah oleh kelompok-kelompok lain, tapi tidak pernah membalas fitnah mereka, palingan langsung adakan ‘aksi’ yang katanya sihh ‘damai’.
Mereka mengaku paling tahu soal Tuhan, tapi entah Tuhan yang mana, Tuhan yang sama dengan yang ada di kitab-Nya ? atau Tuhan yang sudah menjelma ke dalam wujud pemimpin kelompok mereka ?... yang katanya tercipta dari intan dan berlian, emas dan segala macam… lucu saya memandang, tapi inilah kenyataannya..
Sebagai penulis, saya merasa, intoleransi, rasisme dan radikalisme sudah menjamur ke hampir ke seluruh negeri ini, alangkah baiknya, kita jangan terpengaruh pula dengan semua isu yang saat ini sedang terjadi, jauhkan diri dari mereka yang berusaha menghasut dan memecah belah, jikalau ada seorang pemimpin agama, mau agama apapun, berkotbah tentang isu sara, maka jauhilah mereka itu sekalian sebab, jika kita sampai terhasut dan terbuai omong kosong, hancurlah kita sebagai bangsa yang besar… peliharalah NKRI, kita orang cerdas.

Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan
“Soekarno, bapak proklamator bangsa Indonesia”



Hormat penulis : Xaverius Yan’s Chevalera.

Adiksi



 “ADIKSI”

Ketika saya memutuskan untuk meninggalkan alat-alat komunikasi modern dan media sosial saya seperti facebook, instagram, Line, Whatsapp, BBM dan lain-lain, lalu beralih menggunakan metode komunikasi old school yaitu SMS, banyak teman-teman serta kerabat saya bertanya..
“Bang, kenapa gak pake bbm lagi ? kenapa gak update status di FB atau upload foto di Instagram lagi ? kamu galau yak bang ?... diputusin ya sama si A atau si B” banyak mereka beranggapan demikian, menghubungkan drama percintaan dengan hilangnya saya dari dunia ‘imajinasi’ yang sebenarnya tidak benar dan irelevan.
          Saya hanya terkekeh kecil saat mereka menduga-duga seperti itu. Di era informasi saat ini, media sosial memang berperan penting bagi kehidupan kita, namun, tak pelak juga, kadang media sosial membuat kita mengalami suatu Adiksi  yang berlebihan. Tengoklah sekelilingmu sekali-kali, tinggalkan dunia imajinasimu untuk sesaat saja, maka engkau akan tahu mengapa saya walk out dari dunia mimpi yang penuh kepalsuan tersebut. Pembodohan, narsisme, pelacuran, pembohongan publik, semua terjadi karena adiksi seseorang pada media sosial, contoh… banyak orang yang memalsukan dirinya di media sosial seperti facebook, menulis sebuah khayalan yang tidak ada artinya, di twitter, berseliweran kicauan pembohongan, di instagram, narsisme berlebihan yang dituangkan dalam foto selfie, perselingkuhan yang semakin mudah dengan hadirnya BBM, LINE, Whatsapp dan lain-lain, dari semua adiksi tersebut, tak jarang manusia menjadi makhluk yang penuh kepalsuan, menipu dirinya sendiri dengan menggambarkan bahwa ‘AKU BAIK-BAIK SAJA’ …. Oh Tuhan, semua tidak baik-baik saja kawan !!!!
          Media sosial, sebenarnya menjadi pelepasan atau pelarian seseorang dari dunia nyata yang menjengkelkan namun, terlepas dari itu semua, media sosial kadang bisa membuat kita jadi setres , apalagi jika kita melihat seorang teman, mengupload tentang hidupnya yang kini jadi lebih baik dari kita, dia memposting foto-foto di media sosialnya, memberitahukan kalau saat ini dia sedang liburan, atau punya mobil baru, bahkan pacar yang cantik, bak Bunga Citra Lestari… tanpa disadari otak kita memprogram bahwa ‘kita mesti lebih dari dia’ dan apabila kita gagal mencapainya, kita akan mengalami setres.  Padahal, pada kenyataannya, tidaklah demikian, mungkin saja hidupnya lebih buruk dari kita, atau dia juga mengalami setres dan ingin hidup seperti kita, tidak ada yang tahu, inilah penyebab kadang seseorang yang memiliki adiksi pada media sosial menjadi orang yang gampang marah, jahat mulut, pembual dan penuh fitnah.
          Saya pribadi, memilih meninggalkan alat-alat komunikasi serta media sosial tersebut bukan karena ingin menutup diri atau mencibirkan bibir terhadap dunia tapi, pernahkah kamu merasakan, dimanapun kamu berada, kamu selalu sibuk mengabarkan pada dunia lewat alat canggihmu agar mereka tahu kamu sedang apa dan berada dimana. Saya lelah dengan kepalsuan alat komunikasi antar pribadi yang isinya hanya orang-orang berkeluh kesah pada hidupnya bagai esok akan kiamat, tak ada harapan untuk hari ini dan sebagainya. Saat kita sedang bersama teman-teman atau keluarga, semuanya sibuk duduk dan bertunduk kepala menyaksikan reaksi-reaksi palsu dari rekan-rekan dunia imajinasi kita terhadap postingan foto-foto yang baru saja kita unggah ke dunia maya, menyedihkan !!! sediakanlah waktu untuk dunia nyata kawan, biarlah orang melihat dirimu yang sesungguhnya, bukan dirimu yang sibuk pada dunia tidak berbentuk itu.
          Akan tetapi, menurut sudut pandang saya sebagai penulis, adapula kebaikan dari sosial media yang tidak bisa kita abaikan begitu saja yaitu sebagai ‘sumber informasi terbesar’ atau  hugest information sources. Tanpa sosial media , kita juga tidak akan tahu bahwa di ujung dunia sana ada orang yang mati karena kelaparan, atau bahkan di sekitar kita ada orang yang perlu bantuan. Tanpa adanya sosial media, kita pula akan mengalami ketimpangan pada segi pengetahuan umum, kita menjadi orang yang ego sentries, anti-sosial, dan sociopath. Maka bijaklah dalam menggunakan media sosial serta alat-alat komunikasi modern kamu, jangan sampai media sosial atau alat-alat komunikasi modern yang menggunakan kamu.

Hormat Penulis : Xaverius Yan’s Chevalera