“KAGUMKU PADAMU BULAN”
Kemarin
malam, saya duduk di teras belakang rumah sambil menenteng secangkir kopi lalu
sesekali menyeruputnya… kebetulan malam itu bulan purnama terbit. Saat saya
melihat ke angkasa, saya tertegun menyaksikan keindahan sinarnya. Seakan melekat
mata ini, tenang pula rasa hati… lama saya lihat, makin lekat rasa pandang,
saya mulai menyadari sesuatu… saya merenung, lalu mulai merasa kagum dengan
ciptaan Tuhan yang satu ini… betapa tidak, indah dan sempurna. Itulah gambaran
pertama yang keluar dari benak.
Bulan sungguh luar biasa, dia adalah
pahlawan bagi kita , mengapa demikian ?
di saat kita berjalan dalam gelapnya malam , bulan membela kita, dia menerangi
kita dengan cahayanya, menemani kita sampai kepada tujuan.. dia sosok
pemberani, dia terbit sendirian di angkasa , tidak malu dan tidak ragu,
bersinar cerah menyingkap gelap, meski di gerogoti bintang-bintang yang ada di
sekitarnya, dia tidak gentar… dia bercahaya lebih terang dari mereka.
Akan tetapi, bulan juga kadang
menghilang… saya sadar, dia juga perlu istirahat sebab dia pasti merasa kelelahan
setelah bertarung melawan kegelapan demi kita, tapi jika dia sudah pulih , maka
dia akan kembali menguasai langit malam. Oh bulan, saya kagum padamu.. sifatmu
yang tidak malu meski terbit sendirian di langit, sifatmu yang pemberani,
membela kami dari gelapnya malam, walau kau di gerogoti bintang-bintang… saya
ingin sepertimu bulan… bercahaya di tengah gelap dan berani menantang dunia,
walaupun sendirian.
Tak terasa, kopi yang saya tenteng
ternyata sisa ampas saja, sembari tersenyum , sayapun berlalu, kembali masuk ke
dalam rumah. Terima kasih untuk cahayamu BULAN…
Hormat Penulis : Xaverius Yan’s
Chevalera.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar