Sabtu, 11 Februari 2017

Adiksi



 “ADIKSI”

Ketika saya memutuskan untuk meninggalkan alat-alat komunikasi modern dan media sosial saya seperti facebook, instagram, Line, Whatsapp, BBM dan lain-lain, lalu beralih menggunakan metode komunikasi old school yaitu SMS, banyak teman-teman serta kerabat saya bertanya..
“Bang, kenapa gak pake bbm lagi ? kenapa gak update status di FB atau upload foto di Instagram lagi ? kamu galau yak bang ?... diputusin ya sama si A atau si B” banyak mereka beranggapan demikian, menghubungkan drama percintaan dengan hilangnya saya dari dunia ‘imajinasi’ yang sebenarnya tidak benar dan irelevan.
          Saya hanya terkekeh kecil saat mereka menduga-duga seperti itu. Di era informasi saat ini, media sosial memang berperan penting bagi kehidupan kita, namun, tak pelak juga, kadang media sosial membuat kita mengalami suatu Adiksi  yang berlebihan. Tengoklah sekelilingmu sekali-kali, tinggalkan dunia imajinasimu untuk sesaat saja, maka engkau akan tahu mengapa saya walk out dari dunia mimpi yang penuh kepalsuan tersebut. Pembodohan, narsisme, pelacuran, pembohongan publik, semua terjadi karena adiksi seseorang pada media sosial, contoh… banyak orang yang memalsukan dirinya di media sosial seperti facebook, menulis sebuah khayalan yang tidak ada artinya, di twitter, berseliweran kicauan pembohongan, di instagram, narsisme berlebihan yang dituangkan dalam foto selfie, perselingkuhan yang semakin mudah dengan hadirnya BBM, LINE, Whatsapp dan lain-lain, dari semua adiksi tersebut, tak jarang manusia menjadi makhluk yang penuh kepalsuan, menipu dirinya sendiri dengan menggambarkan bahwa ‘AKU BAIK-BAIK SAJA’ …. Oh Tuhan, semua tidak baik-baik saja kawan !!!!
          Media sosial, sebenarnya menjadi pelepasan atau pelarian seseorang dari dunia nyata yang menjengkelkan namun, terlepas dari itu semua, media sosial kadang bisa membuat kita jadi setres , apalagi jika kita melihat seorang teman, mengupload tentang hidupnya yang kini jadi lebih baik dari kita, dia memposting foto-foto di media sosialnya, memberitahukan kalau saat ini dia sedang liburan, atau punya mobil baru, bahkan pacar yang cantik, bak Bunga Citra Lestari… tanpa disadari otak kita memprogram bahwa ‘kita mesti lebih dari dia’ dan apabila kita gagal mencapainya, kita akan mengalami setres.  Padahal, pada kenyataannya, tidaklah demikian, mungkin saja hidupnya lebih buruk dari kita, atau dia juga mengalami setres dan ingin hidup seperti kita, tidak ada yang tahu, inilah penyebab kadang seseorang yang memiliki adiksi pada media sosial menjadi orang yang gampang marah, jahat mulut, pembual dan penuh fitnah.
          Saya pribadi, memilih meninggalkan alat-alat komunikasi serta media sosial tersebut bukan karena ingin menutup diri atau mencibirkan bibir terhadap dunia tapi, pernahkah kamu merasakan, dimanapun kamu berada, kamu selalu sibuk mengabarkan pada dunia lewat alat canggihmu agar mereka tahu kamu sedang apa dan berada dimana. Saya lelah dengan kepalsuan alat komunikasi antar pribadi yang isinya hanya orang-orang berkeluh kesah pada hidupnya bagai esok akan kiamat, tak ada harapan untuk hari ini dan sebagainya. Saat kita sedang bersama teman-teman atau keluarga, semuanya sibuk duduk dan bertunduk kepala menyaksikan reaksi-reaksi palsu dari rekan-rekan dunia imajinasi kita terhadap postingan foto-foto yang baru saja kita unggah ke dunia maya, menyedihkan !!! sediakanlah waktu untuk dunia nyata kawan, biarlah orang melihat dirimu yang sesungguhnya, bukan dirimu yang sibuk pada dunia tidak berbentuk itu.
          Akan tetapi, menurut sudut pandang saya sebagai penulis, adapula kebaikan dari sosial media yang tidak bisa kita abaikan begitu saja yaitu sebagai ‘sumber informasi terbesar’ atau  hugest information sources. Tanpa sosial media , kita juga tidak akan tahu bahwa di ujung dunia sana ada orang yang mati karena kelaparan, atau bahkan di sekitar kita ada orang yang perlu bantuan. Tanpa adanya sosial media, kita pula akan mengalami ketimpangan pada segi pengetahuan umum, kita menjadi orang yang ego sentries, anti-sosial, dan sociopath. Maka bijaklah dalam menggunakan media sosial serta alat-alat komunikasi modern kamu, jangan sampai media sosial atau alat-alat komunikasi modern yang menggunakan kamu.

Hormat Penulis : Xaverius Yan’s Chevalera


Tidak ada komentar:

Posting Komentar